gudangsurga

The greatest WordPress.com site in all the land!

TUGAS AKHIR SEMESTER: TELAAH JURNAL

Nama: Ika Wulandari

NIM: p2722 4012 065

Kelas: B

  1. Pendahuluan
    1. Data base yang digunakan adalah google scholer/google cindekia.
    2. Kata kunci pencarian literature adalah interval pregnancy risk factor of preterm birth dan persalinan prematur.
    3. Jumlah literature yang didapatkan sebanyak 14 versi yang sama dan dijadikan bahan rujukan sebanyak 111 kali dari jurnal internasional dan 186 hasil dari jurnal nasional.
    4. Proses seleksi inklusi dan eksklusi dengan melihat judul yang sesuai dengan pokok bahasan mengenai persalinan premature dan faktor-faktor yang dapat manyebabkab persalinan prematur.
    5. Abstrak

Untuk jurnal internasional (klik disini), dan untuk jurnal nasional (klik disini)

  1. Diskripsi artikel/jurnal
    1. Deskripsi umum

Jurnal internasional judul yang diambil yaitu Interpregnancy Interval And Risk Of Preterm Birth And Neonatal Death Retrospective Cohort Study, ditulis oleh Gordon C S Smith, Jill P Pell, Richard Dobbie, publikasi oleh BMJ 2003; 327; doi: 10.1136/bmj.327.7410.313 tanggal 7 Agustus 2003, halaman 1-6

Tanggal : 27 juni 2012

Jurnal nasional judul yang diambil Hubungan Antara Preeklampsia Dengan Persalinan Prematur Di RSUD Dr. Soesilo Kabupaten Tegal, ditulis oleh Silvia Rinawati,  publikasi oleh UMS 2010

Tanggal: 28 juni 2012

  1. Deskripsi content
  • Tujuan penelitian

Jurnal internasional untuk menentukan apakah suatu interval pendek antara kehamilan merupakan faktor risiko independen untuk hasil obstetric yang buruk.

Jurnal nasional untuk mengetahui hubungan antara preeklamsi dengan kejadian persalinan premature.

  • Hasil penelitian

Jurnal internasional perempuan yang memiliki selang interpregnancy kurang dari enam bulan lebih mungkin dibandingkan perempuan lain untuk memiliki kelahiran pertama rumit dengan pembatasan pertumbuhan intrauterin (rasio odds 1,3, 95% confidence interval 1,1-1,5), lahir sangat prematur (4,1, 3,2 untuk 5,3), kelahiran prematur sedang (1,5, 1,3-1,7), atau kematian perinatal (24,4, 18,9-31,5). Mereka juga lebih pendek, lebih cenderung tidak menikah, dan lebih mungkin berusia kurang dari 20 tahun pada saat kelahiran kedua, untuk merokok, dan untuk tinggal di daerah kekurangan sosial ekonomi tinggi. Apabila hasil kelahiran kedua dianalisis dalam kaitannya dengan interval interpregnancy sebelumnya dan analisis terbatas pada wanita yang pertama lahir adalah kelahiran hidup panjang (n = 69 055), tidak ada hubungan yang signifikan terjadi (disesuaikan dengan usia, status perkawinan, tinggi , sosial ekonomi kurang, merokok, vigesimal berat lahir sebelumnya, dan pengiriman caesar sebelumnya) antara interval interpregnancy dan pembatasan pertumbuhan intrauterin atau kelahiran mati. Namun, interval interpregnancy pendek (<6 bulan) merupakan faktor risiko independen untuk lahir sangat prematur (rasio odds yang disesuaikan 2,2, 1,3-3,6), agak prematur lahir (1,6, 1,3-2,0), dan kematian neonatal yang tidak terkait dengan kelainan bawaan ( 3,6, 1,2 sampai 10.7). Fraksi disebabkan disesuaikan untuk asosiasi ini adalah 6,1%, 3,9%, dan 13,8%. Asosiasi sangat mirip ketika analisis dibatasi untuk menikah bukan perokok berusia 25 ke atas.

Jurnal nasional Dari hasil analisis data didapatkan angka kejadian preeklampsia di RSUD dr. Soesilo Kabupaten Tegal pada periode 1 Januari sampai 31 Desember 2009 sebesar 50% dan angka kejadian persalinan prematur sebesar 20,5%.

  • Kesimpulan penelitian

Jurnal internasional Interval interpregnancy pendek merupakan faktor risiko independen untuk kelahiran prematur dan kematian bayi di kelahiran kedua.

Jurnal nasional ada hubungan antara preeklamsia dengan kejadian persalinan premature.

  1. Telaah/review
  • Fokus penelitian

Jurnal internasional Jarak antar kehamilan dengan persalinan premature

Jurnal nasional preeklamsia dengan kejadian persalinan premature

  • Faktor-faktor yang menyebabkan persalinan premature
  • Gaya dan sistematika penelitian

jurnal internasional dan jurnal nasional keduanya menggunakan tata bahasa yang mudah dipahami, sistematika pada jurnal internasional sudah baik sedangkan jurnal nasional tidak bisa dibuka secara keseluruhan (hanya abstrak).

  • Penulis

Jurnal internasional ditulis oleh Gordon C S Smith selaku professor di departemen obstetric dan ginekologi universitas Cambridge, the Roise hospital, Cambridge.

Jill P Pell selaku konsultan dari department of public health, greater Glasgow NHS board,Glasgow.

Richard Dobbie selaku ahli statistic dari information and statistic devision, common services agensi, Edinbrugh.

Jurnal nasional ditulis oleh Silvia Rinawati

  • Menurut penelaah, dengan melihat latar belakang departemen mereka berasal, penulis tersebut mempunyai kualifikasi yang cukup di bidang yang mereka teliti

 

  • Judul

Jurnal internasional Interpregnancy Interval And Risk Of Preterm Birth And Neonatal Death Retrospective Cohort Study

Jurnal nasional Hubungan Antara Preeklampsia Dengan Persalinan Prematur Di RSUD Dr. Soesilo Kabupaten Tegal

  • Kedua judul penelitian ini cukup jelas, akurat, dan tidak ambigu, dan menggambarkan apa yang akan diteliti.

 

  • Abstrak (kekurangan dan kelebihan)

Jurnal internasional kelebihan: cukup jelas mengenai masalah penelitian, tujuan penelitian, metodologi dan hasil yang didapatkan.

Kekurangan: tidak mencantumkan kata kunci dan jumlah kata lebid dari 250 kata.

Jurnal nasional kelebihan: cukup jelas mengenai masalah penelitian, tujuan penelitian, metodologi dan hasil yang didapatkan, jumlah kata tidak lebih dari 250 kata.

Kekurangan: tidak mencantumkan kata kunci

  • Masalah dan tujuan penelitian

Jurnal internasional

Masalah jarak antar kehamilan dengan persalinan preterm

Tujuannya Untuk menentukan apakah suatu interval pendek antara kehamilan merupakan faktor risiko independen untuk hasil obstetri yang merugikan

  • Tidak disebutkan tujuan khusus

Jurnal nasional

Masalah preeklamsi dengan persalinan premature

Tujuannya untuk mengetahui hubungan preeklampsia dengan angka kejadian persalinan premature

  • Tidak disebutkan tujuan khusus
  • Tinjauan pustaka

Jurnal internasional

  • Untuk jurnal internasional tidak dicantumkan secara menditail variabel-variabel yang bersangkutan.

Jurnal nasional tidak dicantumkan

  • Untuk jurnal nasional hanya abstrak yang dapat dibuka
  • Hipotesis

Jurnal internasional tidak dicantumkan

Jurnal nasional adakah Hubungn Antara Preeklampsia Dengan Persalinan Prematur Di RSUD Dr. Soesilo Kabupaten Tegal

  • Tidak tertulis secara gamblang, jadi pembaca harus lebih cermat
  • Populasi dan sampel

Jurnal internasional Populasi dan sampel semua pasien yang keluar dari rumah sakit skotlandia dari tahun 1992-1998.  Obyek sebanyak 89.143 wanita

Jurnal nasional populasi semua ibu hamil yang mengalami proses persalinan di RSUD dr. Soesilo kabupaten Tegal antara tanggal 1 januari 2009 sampai 31 Desember 2009. Pengambilan sampel hanya yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 44 pasien dan sampel pembanding sebanyak 44 pasien.

  • Jurnal  internasional tidak menyebutkan sampel penelitiannya
  • Jurnal nasional cukup jelas, hanya tidak menyebutkan criteria inklusi pengambilan sampelnya.
  • Pertimbangan etik tidak dicantumkan
  • Definisi oprasional

Jurnal internasional Karakteristik ibu, karakteristik obstetric, dan kematian perinatal

Jurnal nasional tidak dicantumkan

  • Saya hanya memdapat abstrak sehingga DO tidak tercantum

 

  • Metode penelitian

Jurnal internasional menggunakan kohort retrospektif

Jurnal nasional tidak tercantum dalam abstrak

  • Data dan analisis

Jurnal internasional menggunakan Mann-Whitney U test untuk membuat perbandingan antara kelompok, menggunakan Hosmer dan Lemeshow tes untuk menilai baik kecocokan regresi logistik models, dan menghitung fraksi disebabkan disesuaikan setelah regresi logistik multivariat dengan menggunakan metode Greenland dan Drescher.

  • Sudah jelas karena disertai langkah-langkah untuk menghitung hasil

Jurnal nasional menggunakan uji statistik chi square dengan program SPSS 16 for windows

  • Langkah-langkah pengumpulan data tidak dijelaskan
  • Hasil penelitian

Jurnal internasional menguraikan pemilihan dua kelompok belajar. Sekitar 5,4% dari kohort memiliki interval interpregnancy kurang dari enam bulan. Wanita yang kemudian memiliki interval interpregnancy pendek lebih mungkin untuk mengalami komplikasi pada kehamilan pertama mereka. Dibandingkan dengan wanita yang memiliki interval interpregnancy dari 18-23 bulan, mereka dengan selang waktu kurang dari enam bulan memiliki kelebihan 30-50% dari pembatasan pertumbuhan intrauterin dan kelahiran prematur cukup pada kehamilan pertama mereka, sebuah kelebihan empat kali lipat lahir sangat prematur , dan kelebihan lebih besar dari 20 kali lipat kematian perinatal. Kelebihan pertama kelahiran sangat prematur ada di antara wanita yang selanjutnya selang interpregnancy adalah 2-5 tahun.

  • Sangat jelas dan mudah dipahami

Jurnal nasional Dari hasil analisis data didapatkan angka kejadian preeklampsia di RSUD dr. Soesilo Kabupaten Tegal pada periode 1 Januari sampai 31 Desember 2009 sebesar 50% dan angka kejadian persalinan prematur sebesar 20,5%. Hasil uji chi square didapatkan X2 hitung sebesar 6,761 dengan derajat kebebasan (dk) = 0,1 dan taraf signifikan = 0,05 Berdasarkan hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis kejadian preeklampsia memiliki hubungan dengan angka kejadian persalinan prematur dapat diterima.

  • Simple dan jelas
  • Pembahasan hasil

Jurnal internasional Temuan utama dari studi ini adalah bahwa pada wanita memiliki kelahiran kedua interval pendek interpregnancy sebelumnya merupakan faktor risiko independen untuk lahir sangat prematur, kelahiran prematur cukup, dan kematian neonatal bukan karena kelainan bawaan. Ketika kami memeriksa hasil dari semua kelahiran pertama sehubungan dengan interval interpregnancy berikutnya, wanita dengan interval interpregnancy pendek memiliki kelebihan signifikan dari pembatasan pertumbuhan intrauterin, kelahiran prematur, dan kematian perinatal pada kelahiran pertama mereka. Memang, sekitar 10% wanita dengan selang waktu kurang dari enam bulan memiliki kelahiran pertama yang berakhir dengan kematian perinatal, dibandingkan dengan kurang dari 1% wanita dengan selang waktu 18-23 bulan.

  • jelas

Jurnal nasional tidak ada karena hanya abstrak

  • Refrensi

(klik disini)

  • Jurnal nasional tidak dicantumkan
  • refrensi dari jurnal internasional sangat lengkap
  • Kesimpulan dan saran

Kami mengusulkan bahwa perempuan harus diberitahu tentang risiko kecil tetapi secara signifikan peningkatan kelahiran prematur dan kematian perinatal ketika mereka hamil tak lama setelah kelahiran. Saran kontrasepsi harus ditargetkan untuk perempuan yang paling mungkin memiliki interpregnancy pendek berikutnya interval yaitu, remaja dan wanita yang baru saja mengalami kehilangan perinatal.

Jurnal nasional dapat disimpulkan bahwa hipotesis kejadian preeklampsia memiliki hubungan dengan angka kejadian persalinan prematur dapat diterima

  • Untuk jurnal nasional tidak dicantumkan saran untuk ibu
  1. Penutup

Meskipun terdapat beberapa kekurangan pada kedua artikel ini, namun secara langsung maupun tidak artikel ini memberikan beberapa kontribusi atau masukan – masukan yang positif dari berbagai sisi, serta dapat menambah pengetahuan tentang factor-faktor yang mempengaruhi persalinan prematur. Dapat pula dijadikan acuan untuk penelitian – penelitian selanjutnya.

Tinggalkan komentar »

FAKTOR RESIKO PERSALINAN PREMATUR

  1. Faktor Risiko persalinan prematur

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari faktor risiko persalinan prematur, namun faktor risiko tersebut tidak selalu menyebabkan persalinan prematur. Beberapa penelitian di luar negeri memberikan gambaran tentang banyaknya faktor risiko yang dapat mencetuskan persalinan prematur.

Beberapa faktor risiko dapat diketahui sebelum kehamilan. Goffinet (2005) menyebut faktor risiko tersebut sebagai prediktor primer yang meliputi faktor risiko klasik untuk persalinan prematur, misalnya karakteristik awal ibu, riwayat obstetri, penyakit kronis pada ibu, gaya hidup atau kondisi sosial ekonomi. Prediktor primer digunakan untuk memperkirakan risiko dasar pada persalinan prematur sehingga dapat dilakukan tindakan antisipasi untuk mencegah persalinan prematur.

Faktor risiko lain ada yang mungkin dapat diketahui hanya setelah terjadinya kehamilan. Menurut Leitich (2005), faktor risiko tersebut digolongkan menjadi prediktor sekunder yaitu dapat termasuk pada tanda, gejala dan penemuan saat kehamilan yang diketahui dapat meningkatkan persalinan prematur. Dalam 2 dekade terakhir ini, penentuan fetal fibronectin (FFN) dari sekret pada serviks dan vagina serta USG transvaginal untuk menentukan pemendekan serviks merupakan prediktor sekunder yang utama.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan prematur antara lain (Agudelo, 2006; Esplin, 2005; Goffinet, 2005; Krisnadi, 2009; Leitich, 2005; Manuaba, 2001; Simhan, 2005; Steer, 2005):

 

1)   Faktor kehamilan

a)      PPROM-Ketuban pecah dini

Pecahnya kulit ketuban secara spontan sebelum kehamilan cukup bulan banyak dihubungkan dengan amnionitis yang menyebabkan terjadinya lokus minoris pada kulit ketuban. Amnionitis ini diduga sebagai dampak asenderen infeksi saluran kemih.

Risiko persalinan prematur pada ibu dengan riwayat KPD saat kehamilan <37 minggu (PPROM, preterrn premature rupture of membrane) adalah 34-44%, sedangkan risiko untuk mengalami PPROM kembali sekitar 16-32%.

b)      Perdarahan antepartum

c)      Kehamilan ganda dan hidramnion

Distensi uterus berlebihan sering menyebabkan persalinan prematur. Usia kehamilan makin pendek pada kehamilan ganda, 25% bayi kembar 2, 50% bayi triplet dan 75% bayi kuadriplet lahir 4 minggu sebelum kehamilan cukup bulan.

Rata-rata kehamilan kembar dua hanya mencapai usia kehamilan 35 minggu, sekitar 60% mengalami persalinan prematur pada usia kehamilan 32 minggu sampai <37 minggu dan 12% terjadi persalinan sebelum usia kehamilan 32 minggu. Pada kehamilan triplet (kembar 3) rata-rata kehamilan hanya akan mencapai usia 32,2 minggu, quadriplet (kembar 4) hanya mencapai 29,9 minggu dan quintuplet (kembar 5) 100% akan lahir prematur dalam usia kehamilan <29 minggu apabila tidak dilakukan intervensi yang baik.

d)      Kelainan uterus

Uterus yang tidak normal menganggu resiko terjadinya abortus spontan dan persalinan prematur. Pada serviks inkompeten dimana serviks tidak dapat menahan kehamilan terjadi dilatasi serviks mengakibatkan kulit ketuban menonjol keluar pada trimester 2 dan awal trimester 3 dan kemudian pecah yang biasanya diikuti oleh persalinan. Terdapat penelitian menyatakan bahwa risiko terjadinya persalinan prematur akan makin meningkat bila serviks < 30 mm. Hal ini dikaitkan dengan makin mudahnya terjadi infeksi amnion bila serviks makin pendek.

e)      Pre-eklampsia-eklampsia

f)        Serviks inkompeten dan kelainan anatomis uterus

Inkompetensi serviks didiagnosis secara klinis bila terdapat pembukaan serviks pada saat kehamilan (belum ada kontraksi rahim). Beberapa peneliti memasukkan faktor risiko ini ke dalam kelainan rahim. Angka kejadian pasti sulit untuk diketahui, dan keadaan ini sangat mungkin menjadi persalinan prematur apabila dipicu oleh perambatan infeksi asendens yang menyebabkan pecahnya ketuban atau mengeluarkan prostaglandin dan menyebabkan kontraksi rahim. Persalinan prematur dapat juga berlangsung karena fetus dengan cairan ketubannya terlalu berat untuk disangga oleh rahim dengan serviks inkompeten; ketuban dapat segera pecah atau didahului oleh kontraksi rahim.

Pada beberapa kasus, inkompetensi serviks terjadi akibat tindakan operatif pada serviks, misalnya pernah melakukan aborsi, dilatasi serviks yang menimbulkan robekan, atau ada kelainan kongental pada serviks. Dalam kehamilan, inkompetensi serviks dapat didiagnosis dengan pemeriksaan sonografi.

Tumor jinak rahim (mioma) terutama mioma submukosa atau mioma subplasenta, kelainan uterus yang inkompeten merupakan risiko untuk terjadinya persalinan prematur. Kejadian persalinan  prematur dapat meningkat antara 7-29 kali pada ibu yang mempunyai kelainan kongenital saluran Muller.

g)      Idiopatik dengan meningkatnya reseptor oksitosin dan inositol trifosfatase (IP3)

h)      Gangguan keseimbangan hormon estrogen/progesteron

Estriol pertama kali dapat dideteksi di dalam darah ibu pada usia kehamilan sembilan minggu dan konsentrasinya meningkat dalam plasenta selama kehamilan. Tiga sampai lima minggu sebelum persalinan terjadi peningkatan tiba-tiba kadar estriol dalam darah. Estriol terikat pada reseptor estrogen miometrium, menimbulkan respons uterotropik yang bila terus terjadi akan menstimulir produksi prostaglandin yang berasal dari sel endometrium.

Kadar estriol dalam air liur (saliva) menunjukkan konsentrasi estriol bebas dalam plasma. Pemeriksaan estriol saliva lebih mudah dari memeriksa estriol plasma, tidakj invasif dan lebih stabil saat pengiriman sampel. Pada penelitian McGregor, yang melibatkan 956 ibu hamil tunggal, diperiksa estriol saliva setiap minggu. Ternyata peningkatan estriol berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya persalinan prematur.

Antagonis progesteron, secara umum dapat diibaratkan mempunyai efek estrogen, dan kadarnya meningkat seiring meningkatnya usia kehamilan. selanjutnya, progesteron menghambat produksi IL-8 oleh koriodesidua dan sel desidua. Progesteron selanjutnya dapat berperan sinergis dengan estrogen dan memicu pengeluaran oksitosin serta pembentukan reseptor prostaglandin PG oleh miometrium. Kedua hormon ini mempunyai peranan penting dalam inisiasi persalinan sehingga dipakai sebagai prediktor persalinan prematur.

Tinggalkan komentar »

PERSALINAN PREMATUR

  1. Pengertian

Pengertian persalinan prematur menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

1)        Persalinan prematur didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan lengkap 37 minggu atau 259 hari kehamilan (Beck, 2010).

2)        Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu (Goldenberg, 2008).

3)        Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20 minggu sampai kurang dari 37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram (Prawirohardjo, 2007).

  1. Klasifikasi

Menurut Hamilton (2010), klasifikasi persalinan prematur menurut usia kehamilannya ialah sebagai berikut:

1)        Usia kehamilan 34-36+6 minggu disebut hampir aterm (near term).

2)        Usia kehamilan 32-33+6 minggu disebut prematur (premature).

3)        Usia kehamilan 28-31+6 minggu disebut prematur berat (severe prematurity).

4)        Usia kehamilan < 28 minggu disebut ekstrim prematur (extreme prematurity).

  1. Etiologi

       Menurut Beck (2010), persalinan prematur merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian neonatus serta berdampak buruk pada perkembangan kesehatan selanjutnya. Penyebab pasti persalinan prematur tidak diketahui, sehingga dikatakan bahwa penyebab persalinan prematur bukan tunggal tetapi multifaktor. Akan tetapi, persalinan prematur tersebut disebabkan oleh interaksi dari beberapa faktor atau merupakan suatu efek dari tiap faktor masih belum jelas.

2 Komentar »

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

1 Komentar »